Kamis, 03 Desember 2015

Si Kumbang



"Mis, hape gue disembunyiin  sama anak-anak pas praktek editing, gue bingung kenapa mereka selalu jahil ke gue, apa salah gue ke mereka?"

Diatas adalah  penggalan  kalimat aduan yang dilontarkan sahabatku, sebut saja namanya kumbang (karena kalau mawar biasanya dipake untuk menyembunyikan identitas  korban kekerasan cewek dibawah umur hehee Si Kumbang emang dibawah umur? ssttt...hahaha) ahoy lagi-lagi dia mengadu!

Oke di hari disabilitas internasional ini aku mau cerita tentang Si Kumbang , sahabatku  yang suka dijahili oleh teman satu kelasnya , Si Kumbang dikenal sebagai pribadi yang lambat dalam menangkap mata kuliah di kampus , selain itu dia juga kurang bisa diterima di komunitasnya karena bicaranya yang terkenal ceplas-ceplos, sifatnya juga  kekanak-kanakan meski usianya lebih kurang 19 tahun, dia memang diciptakan "istimewa" oleh Tuhan. Sayangnya teman-teman tidak peka, kalau si Kumbang butuh perhatian khusus. Terkadang aku sedih melihat tingkah laku teman-temanya yang suka menjadikan dia bahan olok-olok, canda cela bahkan aksi yang bisa dibillang bully.

Si Kumbang tidak mempunyai teman akrab selain aku, entahlah apa karena sifatnya dianggap aneh sehingga teman-teman tidak mau berteman dengannya? Si Kumbang kerap dijadikan objek keisengan para paparazi teman satu kelasnya, sering kali di grup Black Berry Mesengger kelas terpampang foto-fotonya dalam berbagai pose, ada yang tidur pulas minim busana, ada yang tidur mulutnya di lakban, saat dirinya buang air besar di kamar mandi, bahkan pada posisi ini juga  sempat pelaku merekam dan mengunggahnya ke youtube. Tak pelak gambar-gambar ini menjadi bahan tawa  yang tidak ada habisnya, mungkin bagi teman-temannya itu lucu, mereka tak berfikir bagaimana menjadi Si Kumbang.

Sebagai seorang teman, hilang kesabaranku terhadap pelaku keisengan yang menurutku sudah keterlaluan itu. Aku lelah mendengar aduan Si Kumbang setiap saat, maka tanpa menunggu lama ku gebrak meja kelas, aku tidak peduli rusak atau tidak, kali ini aku benar-benar marah, aku kecewa! aku menyumpah serapahi si pelaku dan mengajaknya untuk berfikir, tidaklah pantas seorang mahasiswa bersikap seperti anak TK! jika demikian apakah label agen perubahan bangsa pantas melekat padanya? Tidak! sungguh tidak terima aku!

Sebagai teman sudah selayaknya kita memahami kekurangan dan kelebihan teman kita, perlakukan teman kita yang istimewa itu sebagai manusia seperti yang lainnya. Coba teman-teman yang suka menjahili Kumbang berfikir jika itu terjadi dengan kita, dengan adik kita, kakak kita, saudara kita bahkan anak kita kelak, pasti berfikir dua kali untuk menyakitinya.

Setiap orang berhak untuk bersenda gurau tetapi  cobalah untuk melihat-lihat siapa yang kita ajak bersenda gurau tersebut, apakah orang itu bisa menerima candaan kita yang mungkin menurut kita biasa? Tidak semua orang menangkap candaan kita sebagai canda semata, apalagi candaan itu menyakiti perasaannya.

Aksi gebrak menggebrak meja, sumpah serapah kata berakhir oleh kedatangan dosen dari arah utara!Akupun diam sambil menyeka air mata #sokjagoantapimewekjuga

Bersambung.....



Minggu, 30 Agustus 2015

Mengintip Sukses Alumnus Broadcast


KAMPUS adalah ruang pembelajaran, kita tidak hanya mendapat ilmu akademis tetapi juga ilmu tentang kehidupan. Di ruang pembelajaran ini pula seseorang akan menemukan arah kehidupannya. Bangku kuliah merupakan kawah candradimuka untuk membentuk diri menjadi apa yang diinginkan di masa mendatang. Berbicara soal pilihan ruang belajar mari belajar bersama dua orang alumnus Akademi Televisi Indonesia/ ATVI yang telah menemukan pilihannya. Mereka meniti jalan suksesnya selepas belajar di jurusan Broadcast,andalan kampus kita tercinta.

Dwi Arini




Broadcaster Handal

Wanita kelahiran Jakarta 5 Juli 1988 ini adalah alumnus ATVI angkatan ke 4, Dwi Arini adalah potret dari salah satu alumnus terbaik yang sukses di dunia broadcast televisi. Bekerja sesuai jurusan yang dipelajari di bangku kuliah tentu sangat menyenangkan. Ilmu yang diperoleh bisa  diterapkan saat duduk di ruang kerja. Sebelumnya wanita yang hobi traveling ini bercita-cita menjadi seorang reporter. Ketertarikannya pada dunia jurnalistik membuat dia harus menolak masuk ke kampus negeri lewat jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) sesuai keinginan orangtuanya. Meski demikian, dia menjatuhkan pilihannya pada kampus ATVI sebagai tempat menimba ilmu. Di bangku kuliah Dwi, karibnya dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan pandai. Hal ini pula yang membuatnya lulus dengan predikat cumlaude.


Gayung bersambut, PT Indosiar Visual Mandiri membuka lowongan pekerjaan bagi alumnus ATVI. Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh Dwi  bersama teman-teman satu angkatan dan kakak angkatan yang berjumalah 80 orang mendaftar di Indosiar. Saat itu Indosiar membutuhkan 14 tenaga dibagian Production Assistant, Creative, Research and Development serta Talent. Setelah melalui proses pemilihan yang cukup ketat Dwi lolos beserta 13 orang temannya, Dwi mendapat jabatan sebagai Production Assistant. Mimpinya menjadi seorang reporter tak kesampaian tetapi hal ini tidak membuatnya kecewa, Dwi sangat menikmati pekerjaannya. "Bekerja di dunia broadcast adalah pengalaman yang sangat menyenangkan, kita bisa bekerjasama dengan tim, menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang adalah kebanggaan tersendiri" ungkapnya.


Semangat berkarya membawa Dwi Arini pada kesuksesan karirnya. Pada usia yang relatif masih muda dia dipercaya memegang jabatan sebagai Program Director di Indosiar terhitung mulai bulan Mei 2014.Dwi berharap  esok akan ada alumnus ATVI yang bisa mengikuti jejaknya berkarir di dunia broadcast seperti dirinya terpenting jangan budayakan malas.  "Buat mahasiswa ATVI jangan malas berkarya, jangan malas bertanya pada dosen, senior dan jangan malas mencoba sesuatu yang baru, untuk memperoleh sesuatu diperlukan sebuah kerja keras," pesannya.

 


Bramandika

Sukses berwirausaha di usia muda

Mempunyai nama lengkap Bramandika Syafran Sahabudin adalah alumnus Akademi Televisi Indonesia angkatan ketiga yang sukses menjadi wirausahawan muda. Berijazah broadcast televisi tidak mengharuskannya bekerja di stasiun televisi. Meski dia sangat ingin menggapai cita-citanya semasa memilih kuliah di Akademi Televisi Indonesia yang saat itu masih bernama Akademi Teknologi Komunikasi dan Informasi.
Minat yang besar bekerja dibelakang panggung membuatnya memilih kampus ATVI sebagai pilihan tempat menimba ilmu dan menempa diri sebagai seorang broadcaster handal.Seperti mahasiswa pada umumnya, Bramandika harus belajar dengan rajin di kampus, tentu dengan harapan mendapatkan nilai akademis yang bagus  sehingga bisa membawanya bekerja sebagai seorang broadcaster handal  seperti cita-citanya.


Lulus pada tahun 2008 Bramandika mulai mengejar mimpinya dengan  mencoba melamar pekerjaan diberbagai stasiun televisi nasional. Namun nasib baik belum berpihak kepadanya, tak satupun stasiun televisi memanggilnya. Dia hanya sampai pada tahap interview. Padahal dirinya sangat menginginkan bekerja di stasiun televisi, Keinginan yang kuat bekerja sebagai seorang broadcaster membuatnya harus kembali meletakan berkas lamaran pekerjaan di TV lokal dan kali ini sama sekali tidak ada panggilan interview. Tak sampai disini saja perjuangan Bramandika untuk menggapai impiannya, dia kembali melamar pekerjaan sebagai seorang Broadcaster di televisi maskapai penerbangan yang ada di Jakarta. Akan tetapi, lagi-lagi impiannya urung dipeluk.


Namanya bukan Bramandika kalau patah arang, dia terus berusaha mencari pekerjaan. Atas usul sahabatnya  Bramandika melamar kerja di salah satu perusahaan maskapai penerbangan sebagai tenaga lepas dan kali ini  dia diterima bekerja diperusahaan tersebut. Bramandika bekerja dengan semangat dan ulet dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu.
Meski tidak sesuai dengan disiplin ilmunya, dia tetap bertanggungjawab dan mencintai pekerjaan. Sebab, dia sadar betul bahwa mencari pekerjaan di era ini tidak mudah dan sangat ketat persaingannya. Bekerja di maskapai penerbangan membuat Bramandika kaya akan ilmu, pengalaman dan relasi dia menjadikan setiap orang yang ditemui sebagai guru.

Sebagai sosok yang cerdik pria kelahiran Jakarta 20 November 1986 itu melihat ada celah peluang usaha yang masih berkaitan dengan dunia penerbangan. Bramandika berpikir selama ada penerbangan orang-orang pasti butuh jasa angkutan baik untuk sampai ke bandara maupun pulang kerumah masing-masing, maka itu dia membuka perusahaan jasa tour and travel yang bernama "Everybody Happy" bersama sahabatnya Norman sesama alumnus ATVI.

Setahun berjalan dia mengganti nama perusahaannya menjadi "Goldy Tour and Travel". Perusahaannya ini bergerak di bidang jasa travel haji dan umroh. Saat ini usaha yang dipimpinnya telah membuka gerai diberbagai kota seperti Surabaya, Semarang, Jogja, Solo, Pontianak, Palangkaraya, Makasar, Bengkulu, Lubuk Linggau, Medan, Tangerang, Garut dan Jakarta. Lambat laun, "Goldy Tour and Travel" berkembang menjadi sebuah perusahaan besar bernama PT Goldy Mulia Wisata.


Kuliah di Broadcast tetapi berwirausaha di bidang yang jasa tour and travel sesuatu yang benar-benar mengharuskan Bramandika belajar keras,  dia mengaku belajar dari nol terkait keterampilannya itu. "Saya belajar televisi tapi malah  berwirausaha jasa tour and travel, ya mungkin kedengarannya aneh dan tidak nyambung dengan apa yang saya pelajari semasa kuliah" tuturnya

"Tetapi bukan sama sekali kuliahnya gak bermanfaat, membuka jasa tour and travel membuat saya harus bertemu dengan banyak orang dan saya dituntut harus bisa berbicara dimuka umum, berbicara dengan konsumen, menilai dan menghargai orang, saya mendapatkan mata kuliah komunikasi di bangku kuliah dan artinya ilmu komunikasinya saya terpakai" katanya pula menambahkan. Sekecil apapun ilmu yang kita peroleh di bangku kuliah sangat bermanfaat.  "Saya bisa dibilang berhasil berwirausaha salah satunya karena keterampilan berkomunikasi. katanya.

Selasa, 31 Maret 2015

Nagasui Pak Mahdi


Satu cup kopi instan panas yang kubeli dari warung Pak Kumis menemani soreku, aroma kopi instan yang khas  ditambah asapnya yang mengepul  pasrah dari dalam cup plastik membuat tenggorokan ingin segera meneguknya dengan harap membuat hangat tubuh ini. Seharian berada diruangan berAC membuat tubuh mengigil, sebagai seorang udik asli aku masih belum bisa bersahabat dengan angin yang keluar dari benda tersebut. Sudah sepekan ini usai perkuliahan aku menghabiskan sore bersama Wina teman sekelasku didepan studio 6, sebuah studio besar milik salah satu stasiun TV swasta itu arsitekturnya  cukup artistik dengat atap berwarna abu-abu menyerupai tenda, memiliki beberapa anak tangga pada pintu masuknya. Kami sengaja duduk di anak tangga sambil mengamati orang berlalu lalang. Ada beberapa karyawan TV bagian produksi berjalan sangat cepat dikejar deadline, ada para petugas kebersihan mengangkut tong sampah, ada para security yang berjalan lalu lalang memastikan keamanan sekitar studio, ada pula rombongan para pendukung sebuah acara ajang pencarian bakat menyanyi yang datang dari luar daerah lengkap dengan seragam dan atributnya.

Obrolanku tentang keluarga bersama  Wina menambah nikmat kopi sore, Wina menceritakan kesibukan kedua orangtuanya sehari-harinya, sementara aku menceritakan sosok almarhum Ayahku ayah terbaik sepanjang masa. Saat aku sedang asyik-asyiknya bercerita datanglah Pak Mahdi, beliau adalah seorang petugas kebersihan dengan status kontrak yang bekerja di Stasiun TV A, kami dikagetkan dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Beliau mengucapkan salam perpisahan dan ucapan maaf apabila ada salah kata selama aku mengenalnya, beliau menjabat erat tanganku dan berkata “Mbak Atun saya minta maaf apabila selama kenal mbak banyak salah, saya habis kontraknya dan tidak diperpanjang.” Aku sangat terharu mendengarnya. Kujawab “sama-sama Pak, Atun juga minta maaf sama pak Mahdi, Atun berterima kasih selama ini sudah diperhatikan dan banyak dibantu pak Mahdi”. “oiya saya titip uang ya ke Pak Ateng untuk bayar batu Nagasui tempo hari” jawabnya lagi. Sungguh aku sedih mendengarnya dalam keadaan sesulit ini beliau masih ingat hutangnya.

Pak Mahdi adalah seorang pegawai yang rajin, tepat pukul 06.00 pagi beliau sudah ada di tempat kerja, Pak Mahdi adalah sosok sederhana, ramah dan humoris sangat hormat terhadap orang-orang disekitarnya. Sebagai seorang buruh kontrak dan outsourcing  atau alih daya Pak Mahdi memiliki masa kerja kontrak yang terbatas dan sering berpindah-pindah sehingga masa kerja pun seringkali dimulai lagi dari nol. Hal ini membuat peluang karyawan untuk meningkatkan status dan karir sangat sulit.Secara umum, praktek hubungan kerja kontrak dan outsourcing cenderung eksploitatif karena dengan kewajiban pekerjaan yang sama, jam kerja yang sama, dan di tempat yang sama dengan buruh tetap, buruh kontrak dan outsourcing memperoleh hak yang berbeda dan sebagian buruh harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan pekerjaan atau untuk mempertahankan pekerjaannya.

Kini tampaknya makin banyak perusahaan yang berbondong-bondong menggunakan pegawai dengan status alih daya. Dan jenis pekerjaan yang dialihdayakan biasanya berupa pekerjaan supporting semacam tenaga security, Office Boy ataupun tenaga kurir. Pertimbangannya tentu saja untuk menghemat cost atau biaya. Dengan menggunakan tenaga outsourcing, perusahaan tak lagi harus terbebani berbagai “employee benefit cost” yang kadang sangat mahal yang bisa sama besarnya dengan gaji dasar karyawan.  Misalnya, biaya kesehatan pegawai atau biaya pensiunan pegawai.Itulah mengapa pilihan untuk merekrut tenaga outsourcing merupakan salah satu pilihan yang menarik untuk melakukan efisiensi biaya tenaga kerja. Tentu saja, banyak pihak yang protes dengan situasi semacam ini. Sebagian bahkan kemudian mengusulkan agar pemerintah mengeluarkan kebijakan yang melarang atau sangat membatasi kegiatan outsourcing. Sebagai pengemban amanah mensejahterakan rakyat dalam hal ini pemerintah dan DPR sudah seharusnya melakukan perbaikan-perbaikan baik dalam segi ketentuan maupun implementasi terkait sistem kerja kontrak dan outsourcing, sudahi drama politik wahai sang pemangku kebijakan! Rakyat lelah, buruh diperah!

Semoga Pak Mahdi mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik, kuterima bayaran hutang dari pak Mahdi  untuk sebutir Nagasui, namun tanpa mengurangi segala hormat kutitipkan lembaran uang ini untuk istri Pak Mahdi, semoga terbeli garam dan terasi......

Senin, 29 Desember 2014

Senyum Kecil Usnanto...

Bahagia itu sederhana, yah sangat sederhana...kebahagiaan ini menjadi begitu terasa  menggebu saat jari-jari tanganku bergerak mengancingkan seragam merah putih di tubuh kecilmu, memakaikan sepatu di kaki kecilmu yang berukuran 28, merautkan pensil baru dan memasukannya ke kotak pensil, membelikanmu macam-macam alat tulis dan terakhir melihatmu tersenyum kepadaku  setelah memakai seragam lengkap. Lelah setelah  bolak-balik Dukuh Sampur sebanyak 4 kali dalam seminggu itu terbayar dengan ucapan “ Maturnuwun mbak “  ditambah senyum manismu apalagi jika kau perlihatkan gigi gupismu ahh...lucu! Hari ini Senin 29 Desember 2014 adalah hari yang takan pernah kita lupakan, hari ini merupakan hari yang bersejarah bagimu dan Nenek, jangan pernah kau lupakan itu!

Masih terlihat jelas wajah Usnan 2 bulan lalu saat mengupas buah pinang pada jam sekolah bersama nenek dipipir rumah. Saat itu mbak dan Kangmas Marno mengambil buah pinang dirumahmu, “Usnan kok gak sekolah?”  tanya mbak waktu itu, kau dengan malu-malu menjawab enggak mbak, Usnan bantu nenek ngupas Pinang.  Rasanya mbak sedih Nan, sangat sedih. Ditambah nenek cerita bahwa kau adalah seorang yatim piatu sejak bayi. Nenek cerita ibumu  meninggal karena keracunan darah ular kobra yang dia minum  beberapa saat setelah melahirkanmu, kesalahan karena tak berhati-hati  memberikan jamu. Ayahmu yang tak bisa menerima kepergian ibumu jatuh sakit hingga menyusul ibu ke surga dan pada akhirnya mereka berdua ikhlas menitipkanmu pada Nenek yang sangat tangguh seperti nenekmu, yang biasa kau panggil Biyung itu. Untuk itu kau punya kewajiban membahagiakan Nenek kelak, buat Nenek bangga mempunyai Usnan.

Meskipun kau terlahir menjadi yatim piatu, tempat tinggalmu di hutan dan rumahmu jauh dari kata layak tapi kau layak mendapatkan pendidikan, kau layak hidup normal seperti anak-anak yang lain. Kau mempunyai hak yang sama seperti anak-anak lain. Oiya Nan mbak di kampus ada pelajaran Pkn dan sering membahas macam-macam undang-undang salah satunya pasal 28H kira-kira bunyinya seperti ini “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Kalau Mbak tafsirkan kurang lebih maknanya seperti ini bahwa setiap warga negara berhak untuk hidup layak, sehat dan bertempat tinggal di tempat yang  bersih , aman dan tentram serta mendapat pelayanan kesehatan yang baik, misalnya  pemberian kartu sehat kepada masyarakat miskin agar meringankan biaya kesehatan mereka serta menjamin pelayanan kesehatan masyarakat yang baik, tapi apakah usnan  dan nenek sudah memperoleh semuanya?. Satu lagi Nan dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 disebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak
terlantar dipelihara oleh Negara”. Maka secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa semua orang miskin dan semua anak terlantar dipelihara oleh negara tetapi pada kenyataannya yang ada dilapangan bahwa tidak semua orang miskin dan anak terlantar dipelihara ole Negara. Iya Nan Mbak Memey maklum di Negara kita yang miskin jumlahnya jutaan. Heheh kok mbak jadi kaya mahasiswa hukum yah bahas undang-undang...enggak Nan, ini biar kau tahu saja bahwa sebenarnya kau berhak atas hidup layak.






Minggu, 14 Desember 2014

Naskah Video Greeting

  
“Mr. Joker”

Scene 1 (Opening)
Long Shoot pada gedung Indosiar tampak Logo Indosiar. Seorang Joker berjalan masuk ke Ruang Transportasi  dan menyapa pegawai yang tengah sibuk.

Joker
 Selamat Siang.... Sibuk ya? (melambaikan tangan)

Crowdid
Siang juga...ekspresi sibuk

Scene 2
Joker berlari dengan lincah menuju posko security dan menanyakan keamanan.
Joker
memberi hormat pada security, semua aman terkendali?

Crowdid
security Siap... semua aman terkendali (serentak)

Scene 3
Joker berlari menuju lobby dan melihat kesibukan para cleaning service, recepcionist dan security

Joker
haiii....Selamat bekerja yaaa...

( menepuk bahu cleaning service yang sedang bersih-bersih kemudian melambaikan tangan)

Scene 4
Joker masuk lift dan keluar lift bertemu recepcionist
Joker
Hai apa kabar?

Recepcionist
Baik..
Joker belok kiri ke ruang Procurment

Joker
semangat yaaaa!!!

Crowdid
Siap semangat!
Joker berlari ke ruang GA dan melihat kesibukan didalamnya
Joker
Sibuk nih yeee??

Crowded
Senyum

Joker
Semangat...semangat..semangat...!!!
Joker menuju ruang pesta

Scene 5
Joker masuk ke ruang pesta , Ia muncul dari tengah-tengah keramaian dan membawa tongkat ajaib

Joker
Demi kesejahteraan bersama....( sambil mengacungkan tongkat)
    
Kepala divisi
Kami keluarga besar Indosiar mengucapkan....

Crowdid
SELAMAT ULANG TAHUN

Kepala Divisi
Semoga INDOSIAR tetap Jaya

Crowdid
Horeeee....
Melanjutkan pesta



SELESAI


Sabtu, 27 September 2014

Edisi flash back THI

Rumah tempatku bekerja sembilan tahun yang lalu
Sembilan tahun yang lalu dirumah mewah ini aku melewatkan masa kanak-kanakku, aku masih sangat ingat di pintu pojok kiri lantai dua rumah ini aku pernah menyelipkan dua gigi gerahamku yang copot. Saat itu usiaku sebelas tahun. Aku menjadi seorang pembantu rumah tangga dirumah ini, pekerjaanku sehari-hari adalah membersihkan rumah, mencuci baju, menyiram tanaman, memberi dan merawat ternak ayam Kate dan Serama juga menjaga seorang bayi usia empat bulan bernama Aliang. Hari-hariku adalah kerja dan kerja.

Sore kemarin aku melintas di komplek perumahan ini, Taman Harapan Indah Blok M no 8. Bentuk rumahnya masih seperti dulu, bersih terawat. Aku menyempatkan waktu untuk memotret rumah ini, sebagai kenang-kenangan bahwa aku pernah menjadi penghuni didalamnya. Selesai memotret kupandangi dalam-dalam rumah ini, kubayangkan wajah nyonya dan tuan besar sembilan tahun silam sedang duduk di teras depan mengamatiku membersihkan kandang ayamnya, kubayangkan wajah non Aling yang ramah meminta bantuan menggendong Aliang, Kubayangkan wajah non lili saat menyuruhku membersihkan gudang, kubayangkan wajah non Afong yang manja memintaku memasang pembalut di celana dalamnya, terakhir kubayangkan teman seperjuanganku Iyem dengan rambutnya yang kriting dan mengembang menjuntai sampai lantai. Pikiranku melayang menjelajahi kenangan-kenangan masa silam, kenangan manis dan pahit dirumah ini.


Arrghh...rumah ini penuh kenangan, senang sekali bisa melihat rumah ini lagi...Sekarang aku bukan lagi buruh, tetapi seorang Mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Segala mimpi-mimpiku sempat terhenti dirumah ini, tapi kini aku kembali memeluk mimpi-mimpiku...

SkenarioMu Indah

SkenarioMu Indah

“Kegagalan adalah ibu dari segala kemujuran” begitu kalimat yang pernah kubaca pada halaman belakang sampul sebuah LKS usang di sudut rak bukuku. Hari ini tiba-tiba aku ingat kalimat itu. Yah aku telah mencabut status kemahasiswaanku yang baru berjalan satu bulan di sebuah Universitas elit di pinggiran Ibukota. Orang bilang sebuah langkah nekad,berani dan beresiko besar terhadap masa depanku. Tapi aku tak memaknainya demikian. Gagal itu biasa, bangkit dari kegagalan itu baru luar biasa. Sesal pasti ada, namun aku merasa tidak akan berkembang bila terus disana.

Segala mimpi-mimpi menjadi seorang filmmaker masih ada. Aku dan kegagalanku sebagai mahasiswa universitas elit cukuplah menjadi pelajaran hidup tentang arti sebuah pilihan. Sekarang aku berhak memilih jalan hidup mana yang akan kutempuh meski bayangan wajah-wajah penuh kekecewaan menghantui setiap detik nafasku, wajah-wajah orang yang kusayangi, wajah-wajah  yang telah kupupuskan harapannya. Teruntuk Mas angkatku, aku sangat menyayangimu. Aku menyesal telah mengecewakanmu.

Hari ini aku menemukan jalanku, aku dipertemukan dengan orang-orang hebat, aku siap memeluk kembali mimpi-mimpiku. Ruang ini memang sempit, tapi takan pernah bisa menyempitkan langkahku. Terimakasih Allah, skenarioMu sungguh indah....Kau tempatkanku di Kampus mini yang nyaman ini.


Senin, 14 Juli 2014

sakitnya sang Imam

Adzan Isya mulai berkumandang begitu nyaringnya di masjid-masjid yang sudah meninggikan menara TOAnya  sebelum Ramadhan datang beberapa saat lalu. Aku bersama Denis sepupuku yang tahun ini baru naik kelas 6 SD berjalan pelan, sangat hati-hati karena lampu senter yang kubawa tak lagi terang, semalam lupa tidak di charger. Menaiki jalan setapak dukuh Seliling yang gelap,licin dengan bebatuan berlumut membuat sandal jepit tak nyaman dipakai,kalau tidak hati-hati benar bisa terpleset ke kebon kapulaga sekeliling jalan. Genangan air sisa hujan sore masih tampak di sela-sela batu hal ini tak menyurutkan langkah pengikut Muhammad SAW ini yang berniat menunaikan ibadah sholat Tarawih. Celana panjang ku gulung, sarung Denis tampak dicincingkan,bukan apa-apa salah injak batu yang goyang bisa menciprat air di sela-selanya ke pakaian kami.

Sudah pukul 19.23 tak ada adzan Isya berkumandang, suasana sepi jamaah, tak ada satupun laki-laki dari Seliling Lor yang ada hanyalah 2 orang wanita dan satu anak kecil  di dalam mushola yang lebih umum kami sebut “Langgar” itu. Maka dengan perasaan dongkol kutabuh kenthong dan bedug tujuannya adalah untuk memanggil para jamaah. Lumayan tiga 0rang datang, dua perempuan tua dan satu laki-laki dewasa bernama kang Djahudi. Tak kujumpai Imam Langgar datang, ada kabar beliau sakit.Hal ini yang membuat beberapa jamaah tidak hadir. Tanpa banyak kata kang Djahudi mengumandangkan adzan Isya.

Maka dengan perasaan grogi iapun mengimami jamaah sholat Isya, meskipun kaku dan sering salah bacaan sholatnya ia berusaha menjadi imam yang baik, maklum ini kali pertama ia menjadi imam di mushola. Kang Djahudi mohon maaf kepada Jamaah bahwa ia tidak bisa mengimami sholat Tarawih maka setelah tahlil aku dan denis kembali kerumah...yah meskipun kecewa tak dapat sholat Tarawih malam ke 17 di bulan ramadhan tapi tak apalah. Kugulung sajadahku dan pulang kerumah. Aku bukan orang yang religius atau mau sok religius tapi pada kesempatan yang baik, di bulan yang baik ini pula aku berusaha beribadah, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim sebaik-baiknya.

Hanya ada dua orang yang bisa menjadi Imam mushola sepeninggal bapakku yaitu pamanku sendiri dan kang Tarno. Paman sudah 2 tahun ini kena struk, kang Tarno sudah 4 hari ini sakit. Hal ini membuatku berpikir kalau sudah tak ada lagi kang Tarno siapa yang mau menjadi Imam mushola? Aku jadi ingat suatu hal yaitu pernah berontak pada bapak karena beliau ingin aku masuk pondok pesantren selepas SD, beliau bilang kalau aku masuk pondok pesantren bisa dapat jodoh anak pondok yang sudah pasti bisa menjadi penerusnya menjadi imam di Langgar kami, Langgar Seliling. Tapi saat itu aku menolak dan memilih kerja di Jakarta. Hal ini membuat bapak terpukul, satu keinginannya yang sampai hari ini belum bisa kupenuhi yaitu ingin aku bisa khatam Al-Quran...

perjalanan pulang dari Langgar aku bilang pada Denis bahwa ia harus belajar ngaji yang baik, paling tidak melek huruf hijaiyah,rajin beribadah karena ia laki-laki yang kelak akan menjadi imam di keluarga. Aku bangga pada Denis ia satu-satunya anak yang rajin berpuasa dan Sholat lima waktu. Akupun kalah sama dia...jadilah anak yang sholeh Den...dan cepatlah sembuh pak kyai Tarno.

Bulan Penghabisan

Juli... Bulan penghabisan Waktunya keluar dari zona nyaman Kembali mengembara Mengejar cita Mengolah pikir Memelihara sadar Memanusiakan di...